Karena Terbukti Melakukan Peredaran Narkoba Secara Besar, 9 Pengedar Sabu Divonis Mati

Karena Terbukti Melakukan Peredaran Narkoba Secara Besar, 9 Pengedar Sabu Divonis Mati – Majelis hakim Pengadilan Negeri Kelas 1 Palembang menjatuhkan vonis mati pada sembilan terdakwa pengedar narkoba antarpulau, Kamis (7/2). Jaringan asal Surabaya itu dapat di buktikan jadi sindikat narkoba yg beroperasi di Sumatera, Jawa serta Kalimantan.

Vonis dibacakan lewat cara bergantian oleh tiga hakim, yaitu Efrata Tarigan, Achmad Syarifuddin serta Achmad Suhel. Sidang diadakan lewat cara bergantian serta menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam.

Beberapa terdakwa yaitu Muhammad Nazwar Syamsu alias Letto sebagai koordinator dari semua proses pengiriman narkoba, Trinil Pupus Prahara, Shabda Sederdian, Chandra Susanto, Hasanuddin, Andik Hermanto, Frandika Zulkifly, Faiz Rahmana Putra serta Ony Kurniawan.

Hakim menilainya tidak ada perihal yg memudahkan beberapa terdakwa lantaran sudah mengerjakan peredaran narkoba dengan jumlahnya besar. Vonis mati lebih berat dari tuntutan jaksa dengan hukuman seumur hidup.

“Terdakwa divonis bersalah serta melanggar Clausal 114 Ayat 2 Junto Clausal 132 ayat 1 Undang-undang Nomer 35 Tahun 2009 perihal Narkotika dengan hukuman mati,” papar hakim terhadap semasing terdakwa lewat cara bergantian.

Atas putusan ini penasehat hukum menyebutkan banding lantaran hakim dianggap tidak perhitungkan beberapa perihal yg memudahkan.

Berdasar pada kenyataan persidangan, sindikat ini sudah mengedarkan sabu seberat 80 kg sabu sejak mulai 12 Maret 2018 sampai 12 April 2018. Sabu itu di sebarkan ke beberapa kota seperti Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Semarang, Surabaya serta Banjarmasin.

Dalam proses pengiriman, sindikat ini mengerjakan beberapa modus pengiriman yaitu lewat hawa serta darat. Pengiriman berpusat dari Palembang ke arah ke Bandar Lampung gunakan kereta api. Sesudah itu, dibawa ke Bandung buat kirim ke sejumlah kota di Jawa dengan gunakan truk.

Jaringan ini pula menutupi narkotika seberat 80 kg dengan gunakan ampas singkong seberat 10 ton. Mengenai buat pengiriman ke Banjarmasin, terdakwa gunakan pesawat terbang lewat Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, transit di Bandara Soekarno Hatta Jakarta kemudian ke Banjarmasin.

Buat mengelabui petugas, sindikat ini mengemas sabu serta ekstasi dengan cara-cara termasuk juga dengan gunakan bungkus kopi yg diberi dengan bubuk kopi. Akan tetapi, waktu mau mengirim narkoba ke Banjarmasin pada 22 Maret 2018 terus, petugas keamanan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menemukan barang kiriman narkoba itu. Sesudah kotak oleh-oleh pempek yg akan di kirim terdeteksi tersedianya narkoba sabu seberat 3,9 kg serta ekstasi sejumlah 4.950 butir.

Dalam mengerjakan laganya Letto mengkoordinir proses pengiriman. Semua kurir yg dibawa kerja sama dikasih gaji kurang lebih Rp 15 sampai Rp 20 juta per kg sabu yg sukses mereka kirimkan.

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel bekerja bersama-sama dengan Polda Jawa Timur mengerjakan pelacakan serta diketemukan kembali lima kg sabu di Surabaya. Dari sana diamankan sejumlah terduga. Mengenai otak dari jaringan ini yg di panggil Bang Kumis masih tetap masuk dalam lis penelusuran orang.