Home / berita umum / 32 Korban Keributan Di Tanah Abang

32 Korban Keributan Di Tanah Abang

32 Korban Keributan Di Tanah Abang  – Delapan orang wafat dalam keonaran di beberapa titik di Jakarta pada 21-22 Mei waktu lalu. Direktur Layanan Medis RS Budi Kemuliaan Muhammad Rifki, contohnya, mengemukakan dari 32 korban keributan di Tanah Abang yang mereka tangani, tiga salah satunya “dianggap terserang peluru tajam; satu orang wafat”. Korban wafat Farhan Syafero (30). Dialah korban wafat yang kali pertama teridentifikasi pada perbuatan 22 Mei pagi hari. Muhammad Baharuddin, salah seseorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, mengkonfirmasi Farhan wafat gara-gara cedera tembak dibagian dekat leher serta tembus sampai ke punggung. Sesaat Humas RSUD Tarakan Reggy Sobari mengemukakan Adam Nooryan (17) serta Widianto Rizky Ramadhan (19) wafat lantaran peluru. Adam tertembak dibagian punggung tembus sampai dada, Widianto di sisi leher. Polisi mengemukakan soal mirip. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo bahkan juga lebih rinci: satu pada delapan korban itu (tidak dengan menyebutkan nama) wafat lantaran terserang peluru tajam. “Yang lain masihlah dalam proses autopsi,” ujarnya. Musti Diselesaikan Liani, tante Widianto Rizky Ramadhan, menuduh polisilah yang musti bertanggung-jawab atas kematian keponakannya. “Mana peluru boongan, peluru karet, itu keponakan saya mengenai tembak di leher, wafat, sama polisi,” papar Liani di RSUD Tarakan masa akan menjemput jenazah keponakannya itu, Rabu (22/5/2019). “Kalaupun seperti ini, ke mana saya harus melapor, Pak Presiden?” imbuhnya. Sampai kini memang belumlah ada pengakuan sah bab siapa yang musti bertanggung-jawab. Berkaitan gugatan kalau pelakunya ialah polisi, Menko Polhukam Wiranto menolak. “Tidak bisa aparat membunuh rakyat,” ujarnya 22 Mei waktu lalu. Bacalah juga: Kapolri Terima Laporan 6 Orang Wafat dalam Perbuatan 22 Mei 2019 Soal mirip dijelaskan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia bahkan juga memberikan indikasi kalaupun yang mengerjakan itu ialah faksi di luar TNI-Polri. 22 Mei lalu ia katakan polisi tangkap enam orang berkaitan kepemilikan senjata api. Senjata api itu dapat diperlukan buat mengarah massa perbuatan supaya menyebabkan kemarahan massa. “Oleh karena itu saya mohon, kita mohon orang buat terus tenang, tak langsung apriori, jangan sampai langsung menuduh aparat pemerintah, aparat keamanan yang mengerjakan beberapa tindakan itu,” kata Tito. Walaupun menolak menembak massa, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi dapat meyakinkan kalaupun yang wafat itu ialah beberapa pembuat onar. “Bukan massa yang jualan, atau yang sedang melaksanakan ibadah,” ujarnya. Jangan sampai Seperti Perkara 98 Beberapa faksi selanjutnya menekan pemerintah merampungkan perkara ini. Pemerintah musti menyelidik serta menginformasikan ke publik siapa aktor penembakan. Koordinator Kontras Yati Adriyani mengemukakan kalau tak mengerjakan itu, karena itu keyakinan orang pada pemerintah dapat turun. Seperti beberapa kasus pelanggaran HAM waktu dulu, perkara ini pun mungkin jadi beban pemerintah kalau tak segera diakhiri. Fakta lain mengapa perkara ini musti lekas diselesaikan ialah peluang itu dapat terulang di saat depan. Pelaku–siapa lantas itu–merasa aman lantaran mencabut nyawa orang nyata-nyatanya tidak mendapatkan hukuman. “Pola-pola mirip begitu mungkin berlangsung di saat depan,” ujarnya pada reporter Tirto, Kamis (23/5/2019). Bacalah juga: Rumah Duka Korban Wafat Keonaran Tanah Abang Ramai Pelayat Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan utamanya pengungkapan perkara ini. Ia memperingatkan pemerintah kalau ada banyak perkara pelanggaran HAM waktu dulu yang belum tersingkap sampai saat ini, serta perkara ini jangan pernah meningkatkan panjang daftar tersebut–meski Komnas HAM sendiri masih menyelidik apa perkara ini termasuk juga pelanggaran HAM ataukah tidak. “Jangan pernah terulang [tidak terungkap],” kata Beka pada reporter Tirto. Ketua Sektor Advokasi YLBHI Muhammad Isnur mengemukakan satu diantara soal yang dapat dikerjakan ialah mengautopsi korban. Isnur selanjutnya memberi anjuran keluarga korban sepakat autopsi walaupun beberapa salah satunya udah katakan malas mengerjakan itu. “Buat penyidikan. Ini penting memang. Apa ini peluru dari polisi, tentara, atau selain itu. Ini penting disingkap,” katanya.

About admin